Archive for Maret 2015
Sejak kecil Cahaya sudah mengalami hal-hal yang seharusnya tidak dia rasakan sejak kecil. Tubuhnya kecil, pendek namun sedikit berisi, kulitnya pun agak hitam dan sesekali menjadi merah dengan sendirinya. Rambutnya agak cepak, pakaiannya rapi, dan hidupnya juga rapi. Cahaya adalah anak yang sangat tepat waktu, karena tidak mau melihat seseorang menjadi menunggu. Dia lah cahaya yang seharusnya selalu ceria.
SD kelas tiga, disinilah dia memulai perjalannya. Sejak kecil, sebelum sekolah dasar, dia selalu diragukan dan dikesampingkan, flashback-nya pun mengatakan hal yang serupa. dia berdiri didepan tanaman teh-tehan, tanaman yang dijadikan pagar. Tentu saja dia tidak sendiri, bersama sepupunya yang gendut dan seorang gadis cantik yang keduanya adalah saudara se-kekek. Waktu itu sang gadis menunjukkan apollonya, sebuah permainan balon yang sangat digemari kala itu. gadis itu mengajak kiki untuk sekolah, agar dia bisa bermain seperti yang dia punya sekarang. balon pun di buatnya, tentu untuk kiki yang lebih tua dibandingkan dengan cahaya, dia hanya termenung dan melihati balon itu. Cahaya adalah orang yang pendiam, orang tuanya sederhana, tidak cukup uang untuk memberikan semua keingnan cahaya. meskipun begitu, tetap saja cahaya menginginkan itu, tapi tidak ada yang menawarinya, siapa dia? begitu ungkapnya dalam hati, tapi dia hanya melihati dan memendam perasaan itu.
Sekola sore, flaxhbacknya masih ada. dia hanya ikut-ikutan saja. tentu saja umurnya belum cukup untuk masuk SD maupun TPQ, tapi tetap saja dia membujuk orang tuanya, dengan keras. dia memang bukan aanak-anak yang bisa diajak bersenang-senang, cahaya adalah anak yang pemalu, seorang yang tidak dianggap, selalu diremehkan, mungkin karena tidak bisa apa-apa.
Pertama masuk SD, cahaya terlihat tegar. padahal umurnya baru lima setengah tahun, memang umum, tapi seharusnya hanya dititipkan saja. diantara pohon-pohon flamboyan mereka duduk, kiki, cahaya dan lilus. ditempat yang sejuk itu lilus mencoba menghibur kiki yang menangis tersedu ketakutan karena masa pertama masuk kelas, gurunya galak, begitu tegasnya. cahaya pun memberi semangat, tapi gagal, akhirnya kiki pulang karena ayahnya tidak tega. lalu bagaimana dengan cahaya?
dalam sempitnya kursi paling belakang yang disampingnya kosong, muka cahaya langsung masam karena guru pertamanya datang. padahal buku dan pensilnya sudah diatas mejanya, tapi mukanya semakin musam. cahaya yang harusnya berani akhirnya menyerah juga dengan keberaniannya sendiri, pensil dan bukunya pelan namun pasti dimasukkannya, tasnya dijinjing dan akhirnya tarik menarik antar guru dan murid terjadi. cahaya menangis, ketakutan, namun ditarik gurunya didepan pintu untuk kembali kedalam kelas, namun gagal, akhirnya disepanjang jala pulang cahaya menangis. keberaniannya pun gagal total.
cahaya adalah anak yang cerdas, buktinya, dia mudah menguasai bacaan ejaan arab, alif ba' ta', surat pendek, bahkan tanpa juz ama, sebuah buku Al Qur'an dengan ejaan indonesia dan artinya. sekolah jilid tiga, itulah kelanjutan hidupnya atas kecerdasannya yang akan tertahan.
sebuah janji yang dia tepati, namun disalah gunakan oleh teman-temannya. semua rumah teman-temannya sudah dia datangi, sudah dia masuki, namun rencana berangkat sekolah sore pun akhirnya kandas. bertama lilus dia dibujuk berangkat duluan, padahal sudah dia sudah kekeh untuk tidak meninggalkan teman-temannya. karena lilus berkata bahwa teman-temannya sudah berangkat, akhirnya dia beranjak dari duduknya menunggu untuk pergi dengannya.
di kantin dia berhenti, jajan yang dia tuju, tentu untuk melihat-lihat juga apakah temannya benar-benar sudah berngkat. serempak teman-temannya datang, dan serempak pula dia mengajak dan bermain bersama cahaya di kelas. tanpa rasa enggan dia mengikuti permainan mereka, berlari kesana ke mari, dan akhirnya dia ditendangi kesana kemari. serempak rencana jahat besar mengenai cahaya. bersebelas, jumlah yang cukup untuk menjadikan sebuah permainan sepak bola menjad sempurna, sesempurna cahaya yang menjadi bolanya, dan disorakai serta di tonton oleh gelora yang sangat ramai. hari itu adalah rencana yang sempurna membuat cahaya kehilangan dirinya, tangisan deras mengalir dengan tubuhnya yang sakit dan terbaring. hanya lilus malaikat kecilnya, membujuknya pulang. rencana disore hari, membuat diri cahaya lenyap, dan berkesebelasan itu seperti tidak punya dosa atas rencananya, rencana yang mereka sebut, tendangan
