Archive for 2015
Sejak kecil Cahaya sudah mengalami hal-hal yang seharusnya tidak dia rasakan sejak kecil. Tubuhnya kecil, pendek namun sedikit berisi, kulitnya pun agak hitam dan sesekali menjadi merah dengan sendirinya. Rambutnya agak cepak, pakaiannya rapi, dan hidupnya juga rapi. Cahaya adalah anak yang sangat tepat waktu, karena tidak mau melihat seseorang menjadi menunggu. Dia lah cahaya yang seharusnya selalu ceria.
SD kelas tiga, disinilah dia memulai perjalannya. Sejak kecil, sebelum sekolah dasar, dia selalu diragukan dan dikesampingkan, flashback-nya pun mengatakan hal yang serupa. dia berdiri didepan tanaman teh-tehan, tanaman yang dijadikan pagar. Tentu saja dia tidak sendiri, bersama sepupunya yang gendut dan seorang gadis cantik yang keduanya adalah saudara se-kekek. Waktu itu sang gadis menunjukkan apollonya, sebuah permainan balon yang sangat digemari kala itu. gadis itu mengajak kiki untuk sekolah, agar dia bisa bermain seperti yang dia punya sekarang. balon pun di buatnya, tentu untuk kiki yang lebih tua dibandingkan dengan cahaya, dia hanya termenung dan melihati balon itu. Cahaya adalah orang yang pendiam, orang tuanya sederhana, tidak cukup uang untuk memberikan semua keingnan cahaya. meskipun begitu, tetap saja cahaya menginginkan itu, tapi tidak ada yang menawarinya, siapa dia? begitu ungkapnya dalam hati, tapi dia hanya melihati dan memendam perasaan itu.
Sekola sore, flaxhbacknya masih ada. dia hanya ikut-ikutan saja. tentu saja umurnya belum cukup untuk masuk SD maupun TPQ, tapi tetap saja dia membujuk orang tuanya, dengan keras. dia memang bukan aanak-anak yang bisa diajak bersenang-senang, cahaya adalah anak yang pemalu, seorang yang tidak dianggap, selalu diremehkan, mungkin karena tidak bisa apa-apa.
Pertama masuk SD, cahaya terlihat tegar. padahal umurnya baru lima setengah tahun, memang umum, tapi seharusnya hanya dititipkan saja. diantara pohon-pohon flamboyan mereka duduk, kiki, cahaya dan lilus. ditempat yang sejuk itu lilus mencoba menghibur kiki yang menangis tersedu ketakutan karena masa pertama masuk kelas, gurunya galak, begitu tegasnya. cahaya pun memberi semangat, tapi gagal, akhirnya kiki pulang karena ayahnya tidak tega. lalu bagaimana dengan cahaya?
dalam sempitnya kursi paling belakang yang disampingnya kosong, muka cahaya langsung masam karena guru pertamanya datang. padahal buku dan pensilnya sudah diatas mejanya, tapi mukanya semakin musam. cahaya yang harusnya berani akhirnya menyerah juga dengan keberaniannya sendiri, pensil dan bukunya pelan namun pasti dimasukkannya, tasnya dijinjing dan akhirnya tarik menarik antar guru dan murid terjadi. cahaya menangis, ketakutan, namun ditarik gurunya didepan pintu untuk kembali kedalam kelas, namun gagal, akhirnya disepanjang jala pulang cahaya menangis. keberaniannya pun gagal total.
cahaya adalah anak yang cerdas, buktinya, dia mudah menguasai bacaan ejaan arab, alif ba' ta', surat pendek, bahkan tanpa juz ama, sebuah buku Al Qur'an dengan ejaan indonesia dan artinya. sekolah jilid tiga, itulah kelanjutan hidupnya atas kecerdasannya yang akan tertahan.
sebuah janji yang dia tepati, namun disalah gunakan oleh teman-temannya. semua rumah teman-temannya sudah dia datangi, sudah dia masuki, namun rencana berangkat sekolah sore pun akhirnya kandas. bertama lilus dia dibujuk berangkat duluan, padahal sudah dia sudah kekeh untuk tidak meninggalkan teman-temannya. karena lilus berkata bahwa teman-temannya sudah berangkat, akhirnya dia beranjak dari duduknya menunggu untuk pergi dengannya.
di kantin dia berhenti, jajan yang dia tuju, tentu untuk melihat-lihat juga apakah temannya benar-benar sudah berngkat. serempak teman-temannya datang, dan serempak pula dia mengajak dan bermain bersama cahaya di kelas. tanpa rasa enggan dia mengikuti permainan mereka, berlari kesana ke mari, dan akhirnya dia ditendangi kesana kemari. serempak rencana jahat besar mengenai cahaya. bersebelas, jumlah yang cukup untuk menjadikan sebuah permainan sepak bola menjad sempurna, sesempurna cahaya yang menjadi bolanya, dan disorakai serta di tonton oleh gelora yang sangat ramai. hari itu adalah rencana yang sempurna membuat cahaya kehilangan dirinya, tangisan deras mengalir dengan tubuhnya yang sakit dan terbaring. hanya lilus malaikat kecilnya, membujuknya pulang. rencana disore hari, membuat diri cahaya lenyap, dan berkesebelasan itu seperti tidak punya dosa atas rencananya, rencana yang mereka sebut, tendangan
Sekitar tiga hari akhirnya saya dan rombongan berkunjung ke bali, bagi saya ini erupakan perjalanan memori untuk saya, apalagi, sekaligus merayakan hari ulang tahunku yang ke-20. salah satu tempat yang kami singgahi adalah daerah bangli - bali, khususnya di desa Pnglipuran yang berasal dari suku kata Pangeling Pure atau tempat untuk mengenang para leluhur.
Meskipun hujan turun lebat, kunjungan tetap berjalan. kami berkunjung untuk berwisata, tapi kenyataannya, kami malah mengunjunginya bak seminar saja. kepala adat menjelaskannya, dan kami menanyakannya (baca: saya tidak tanya). inilah desa yang unik, masih khas bali, meskipun sudah terkena sentuhan modern. daerah utama terdiri dari rumah-rumah dengan petakan lahan-lahan warga yang berarsitektur bali (baca: dalam istilah bali disebut "pekarangan") yang terdiri dari beberapa keluarga. Di tengah desa terdapat jalan utama yang menghubungkan sebuah pure ke daerah ladang (baca: sebut saja begitu).
Alam yang masih hijau, setiap warga didepan pintu rumahnya saling mengajak masuk untuk membeli kerajinan disana. sempat saya masuk sebentar, disana terdapat sebuah minuman hijau, terdiri dari air, daun pandan dan kelapa sehingga terlihaat berwarna hijau dan raanya seperti rujak namun tidak terasa panas dimulut(baca: setahuku saja).
Pure berdiri disetiap sudut di desa itu, ada pure utama namun ditutup, mungkin untuk melindungi pure tersebut. Desanya memang kecil, dan dikelilingi oleh pohon bambu di lingkaran desa luarnya, bahkan mobil atau kendaraan modern harus mengitari desa untuk masuk rumah, dilarang menggunakan jalur utama desa. hal ini ditujukan agar hanya pejalan kaki yang melintasi jalan tersebut, untuk melidungi desa dan polusi dan agar tampak asri. itu saja si yang saya tahu.
Entah apa yang membuatnya menjadi menarik, jum'at, 23 Januari 2015 dimulai pukul 8.00 WIB. duduk di bangku tugu sutera, memandangi pemandangan yang sangat meneduhkan mata, dengan aroma bunga kanthil, dikelilingi para tukang kebun yang teramat tampan dengan pekerjaan mereka, serta burung-burung yang bebas hinggap kesana kemari. kiranya tepat membayar Rp. 3.000,- di perpustakaan tadi. sepertinya itulah loket surganya, serta bayarannya.
saya adalah tokoh utama dalam cerita ini. berpikun-pikun mengelilingi hijaunya kampus. bersiap sedia singgah dari satu pojok ke pojok lainnya, seperti jarum. para tukang kebun, ketiganya masih memandangi kami.
saya yang semakin tua, semakin dipanggil bapak-bapak. dan meskipun ketiga teman saya lebih muda dari saya, tetap saja saya terlihat lebih tua dari mereka, meski belum sepenuhnya dewasa. setelah melapor diri kepada Tuhan, inilah sasaran kami, tempat peneduh hati setelah sang kepala prodi meninggalkan kami, padahal kami menunggunya lama. di bukit cinta.
entah kenapa dinamakan bukit cinta. dua sejoli pun rasanya sangat jauh, atau bahkan tidak pernah sekalipun terlihat berduaan disini, hanya kami berempat, dua pasang lakon. pemandangannya memang indah. jurang, tapi terlihat lapangan, hutan, kebun dan gedung-gedung yang menakjubkan, dan pesawat yang mendarat adalah burungnya yang tampak besar.
itulah frekuensi kehidupan pertama yang dialami oleh aktor utamanya. semua senang, semua seperti menang. sebongkah obat pelipur lara karena nilai-nilai kuliah kami. lihatlah raut muka mereka, sangat sumringah. disana angin bertiup sangat sejuk, entah kenapa mengalahkan memori hujan yang semilir. mungkin karena ini kenyataannya, suasana inilah yang mengalahkannya, suasana nyata, bukan memori.
saya adalah seorang photografer, dan mereka adalah modelku. kamera menjadi tangkapannya. meskipun beberapa kali saya menjadi modelnya, tapi saya tetap menjadi photografernya. memotreti tawaan-tawaan. dengan ini, jangan sampai dunia itu menghilang seperti yang lainnya. seperti masa kecil tanpa tangkapan layar. disana sudah tertulih oleh angin, dan bambu-bambu, dan tanah-tanah. sudah terlukiskan disana, dan kamilah penulisnya.

















