Sejak kecil Cahaya sudah mengalami hal-hal yang seharusnya tidak dia rasakan sejak kecil. Tubuhnya kecil, pendek namun sedikit berisi, kulitnya pun agak hitam dan sesekali menjadi merah dengan sendirinya. Rambutnya agak cepak, pakaiannya rapi, dan hidupnya juga rapi. Cahaya adalah anak yang sangat tepat waktu, karena tidak mau melihat seseorang menjadi menunggu. Dia lah cahaya yang seharusnya selalu ceria.
SD kelas tiga, disinilah dia memulai perjalannya. Sejak kecil, sebelum sekolah dasar, dia selalu diragukan dan dikesampingkan, flashback-nya pun mengatakan hal yang serupa. dia berdiri didepan tanaman teh-tehan, tanaman yang dijadikan pagar. Tentu saja dia tidak sendiri, bersama sepupunya yang gendut dan seorang gadis cantik yang keduanya adalah saudara se-kekek. Waktu itu sang gadis menunjukkan apollonya, sebuah permainan balon yang sangat digemari kala itu. gadis itu mengajak kiki untuk sekolah, agar dia bisa bermain seperti yang dia punya sekarang. balon pun di buatnya, tentu untuk kiki yang lebih tua dibandingkan dengan cahaya, dia hanya termenung dan melihati balon itu. Cahaya adalah orang yang pendiam, orang tuanya sederhana, tidak cukup uang untuk memberikan semua keingnan cahaya. meskipun begitu, tetap saja cahaya menginginkan itu, tapi tidak ada yang menawarinya, siapa dia? begitu ungkapnya dalam hati, tapi dia hanya melihati dan memendam perasaan itu.
Sekola sore, flaxhbacknya masih ada. dia hanya ikut-ikutan saja. tentu saja umurnya belum cukup untuk masuk SD maupun TPQ, tapi tetap saja dia membujuk orang tuanya, dengan keras. dia memang bukan aanak-anak yang bisa diajak bersenang-senang, cahaya adalah anak yang pemalu, seorang yang tidak dianggap, selalu diremehkan, mungkin karena tidak bisa apa-apa.
Pertama masuk SD, cahaya terlihat tegar. padahal umurnya baru lima setengah tahun, memang umum, tapi seharusnya hanya dititipkan saja. diantara pohon-pohon flamboyan mereka duduk, kiki, cahaya dan lilus. ditempat yang sejuk itu lilus mencoba menghibur kiki yang menangis tersedu ketakutan karena masa pertama masuk kelas, gurunya galak, begitu tegasnya. cahaya pun memberi semangat, tapi gagal, akhirnya kiki pulang karena ayahnya tidak tega. lalu bagaimana dengan cahaya?
dalam sempitnya kursi paling belakang yang disampingnya kosong, muka cahaya langsung masam karena guru pertamanya datang. padahal buku dan pensilnya sudah diatas mejanya, tapi mukanya semakin musam. cahaya yang harusnya berani akhirnya menyerah juga dengan keberaniannya sendiri, pensil dan bukunya pelan namun pasti dimasukkannya, tasnya dijinjing dan akhirnya tarik menarik antar guru dan murid terjadi. cahaya menangis, ketakutan, namun ditarik gurunya didepan pintu untuk kembali kedalam kelas, namun gagal, akhirnya disepanjang jala pulang cahaya menangis. keberaniannya pun gagal total.
cahaya adalah anak yang cerdas, buktinya, dia mudah menguasai bacaan ejaan arab, alif ba' ta', surat pendek, bahkan tanpa juz ama, sebuah buku Al Qur'an dengan ejaan indonesia dan artinya. sekolah jilid tiga, itulah kelanjutan hidupnya atas kecerdasannya yang akan tertahan.
sebuah janji yang dia tepati, namun disalah gunakan oleh teman-temannya. semua rumah teman-temannya sudah dia datangi, sudah dia masuki, namun rencana berangkat sekolah sore pun akhirnya kandas. bertama lilus dia dibujuk berangkat duluan, padahal sudah dia sudah kekeh untuk tidak meninggalkan teman-temannya. karena lilus berkata bahwa teman-temannya sudah berangkat, akhirnya dia beranjak dari duduknya menunggu untuk pergi dengannya.
di kantin dia berhenti, jajan yang dia tuju, tentu untuk melihat-lihat juga apakah temannya benar-benar sudah berngkat. serempak teman-temannya datang, dan serempak pula dia mengajak dan bermain bersama cahaya di kelas. tanpa rasa enggan dia mengikuti permainan mereka, berlari kesana ke mari, dan akhirnya dia ditendangi kesana kemari. serempak rencana jahat besar mengenai cahaya. bersebelas, jumlah yang cukup untuk menjadikan sebuah permainan sepak bola menjad sempurna, sesempurna cahaya yang menjadi bolanya, dan disorakai serta di tonton oleh gelora yang sangat ramai. hari itu adalah rencana yang sempurna membuat cahaya kehilangan dirinya, tangisan deras mengalir dengan tubuhnya yang sakit dan terbaring. hanya lilus malaikat kecilnya, membujuknya pulang. rencana disore hari, membuat diri cahaya lenyap, dan berkesebelasan itu seperti tidak punya dosa atas rencananya, rencana yang mereka sebut, tendangan
Sekitar tiga hari akhirnya saya dan rombongan berkunjung ke bali, bagi saya ini erupakan perjalanan memori untuk saya, apalagi, sekaligus merayakan hari ulang tahunku yang ke-20. salah satu tempat yang kami singgahi adalah daerah bangli - bali, khususnya di desa Pnglipuran yang berasal dari suku kata Pangeling Pure atau tempat untuk mengenang para leluhur.
Meskipun hujan turun lebat, kunjungan tetap berjalan. kami berkunjung untuk berwisata, tapi kenyataannya, kami malah mengunjunginya bak seminar saja. kepala adat menjelaskannya, dan kami menanyakannya (baca: saya tidak tanya). inilah desa yang unik, masih khas bali, meskipun sudah terkena sentuhan modern. daerah utama terdiri dari rumah-rumah dengan petakan lahan-lahan warga yang berarsitektur bali (baca: dalam istilah bali disebut "pekarangan") yang terdiri dari beberapa keluarga. Di tengah desa terdapat jalan utama yang menghubungkan sebuah pure ke daerah ladang (baca: sebut saja begitu).
Alam yang masih hijau, setiap warga didepan pintu rumahnya saling mengajak masuk untuk membeli kerajinan disana. sempat saya masuk sebentar, disana terdapat sebuah minuman hijau, terdiri dari air, daun pandan dan kelapa sehingga terlihaat berwarna hijau dan raanya seperti rujak namun tidak terasa panas dimulut(baca: setahuku saja).
Pure berdiri disetiap sudut di desa itu, ada pure utama namun ditutup, mungkin untuk melindungi pure tersebut. Desanya memang kecil, dan dikelilingi oleh pohon bambu di lingkaran desa luarnya, bahkan mobil atau kendaraan modern harus mengitari desa untuk masuk rumah, dilarang menggunakan jalur utama desa. hal ini ditujukan agar hanya pejalan kaki yang melintasi jalan tersebut, untuk melidungi desa dan polusi dan agar tampak asri. itu saja si yang saya tahu.
Entah apa yang membuatnya menjadi menarik, jum'at, 23 Januari 2015 dimulai pukul 8.00 WIB. duduk di bangku tugu sutera, memandangi pemandangan yang sangat meneduhkan mata, dengan aroma bunga kanthil, dikelilingi para tukang kebun yang teramat tampan dengan pekerjaan mereka, serta burung-burung yang bebas hinggap kesana kemari. kiranya tepat membayar Rp. 3.000,- di perpustakaan tadi. sepertinya itulah loket surganya, serta bayarannya.
saya adalah tokoh utama dalam cerita ini. berpikun-pikun mengelilingi hijaunya kampus. bersiap sedia singgah dari satu pojok ke pojok lainnya, seperti jarum. para tukang kebun, ketiganya masih memandangi kami.
saya yang semakin tua, semakin dipanggil bapak-bapak. dan meskipun ketiga teman saya lebih muda dari saya, tetap saja saya terlihat lebih tua dari mereka, meski belum sepenuhnya dewasa. setelah melapor diri kepada Tuhan, inilah sasaran kami, tempat peneduh hati setelah sang kepala prodi meninggalkan kami, padahal kami menunggunya lama. di bukit cinta.
entah kenapa dinamakan bukit cinta. dua sejoli pun rasanya sangat jauh, atau bahkan tidak pernah sekalipun terlihat berduaan disini, hanya kami berempat, dua pasang lakon. pemandangannya memang indah. jurang, tapi terlihat lapangan, hutan, kebun dan gedung-gedung yang menakjubkan, dan pesawat yang mendarat adalah burungnya yang tampak besar.
itulah frekuensi kehidupan pertama yang dialami oleh aktor utamanya. semua senang, semua seperti menang. sebongkah obat pelipur lara karena nilai-nilai kuliah kami. lihatlah raut muka mereka, sangat sumringah. disana angin bertiup sangat sejuk, entah kenapa mengalahkan memori hujan yang semilir. mungkin karena ini kenyataannya, suasana inilah yang mengalahkannya, suasana nyata, bukan memori.
saya adalah seorang photografer, dan mereka adalah modelku. kamera menjadi tangkapannya. meskipun beberapa kali saya menjadi modelnya, tapi saya tetap menjadi photografernya. memotreti tawaan-tawaan. dengan ini, jangan sampai dunia itu menghilang seperti yang lainnya. seperti masa kecil tanpa tangkapan layar. disana sudah tertulih oleh angin, dan bambu-bambu, dan tanah-tanah. sudah terlukiskan disana, dan kamilah penulisnya.
Pagi telah dikicaukan burung gereja. lonceng gereja pun berhentakan merdu. suasana masih sepi, samar-samar dan lembab. terasa masih asing di mata.
tapi lirikan biru sudah mulai nampak sebentar. disusul orang yang sudah terburu-buru. mataharipun mulai menghangatkan kulit. embun pun mulai menguap.
inilah rasanya setelah semalam bergelutuk dengan mimpi-mimpi semi nyata. kadang sadar kadang tidak. aku bertanya, sudahkah aku punya mimpi di hari ini?
hari ini tertanggal 11 september 2014, hari kamis.
intinya, sampai hari ini pun aku belum menemukan diriku, apa kemauanku, bagaimana kepribadianku. kecuali kebimbangan yang terombang-ambing, mudah tergoda saja.
intinya, apa sebenarnya obsesiku, aku belum temukan. siapa diriku, aku belum yakin. belum pernah yakin, bahkan keputusanpun belum pernah aku yakin.
banyak orang membela keputusan mereka, aku masih tidak mampu. guru-guru dengan teori mereka, aku masih ragu dengan teoriku.
beginilah diriku, harusnya aku memutar balik. kesempatan itu sudah ku pergunakan dengan salah. aku memang salah.
tapi ini sudah direncanakan. aku sudah melihatnya sendiri. berarti ini jalan. jalan yang salah, tapi benar.
bagai mana aku bisa melewatinya, kepalaku sudah berputar-putar sekarang. matahari sudah siang. rembulan sudah lenyap.
panas, panas dan panas.
aku harus temukan, sebelum matahari berbalik. sebelum kecelakaan bulan.
meski kaku tangan ini menyentuh, tempat asalku masih belum kutemui. jati diriku masih tertutupi, dan pandanganku semakin mengabur.
diriku, tolong aku.
Mahal Kita, Aku mencintaimu. itulah kalimat yang terucap menggunakan bahasa tagalog. Bahasa Tgalog satu rumpun dengan bahasa Indonesia, Sunda, bali, dan juga jawa. Sehingga banyak kata-kata yang sangat mirip ucapan, maknanya atau maksudnya.
Tujuanku selanjutnya adalah belajar bahasa Tagalog di tempat asalnya, Filipina, Pilipino. Meskipun bahasa utamanya adalah bahasa inggris, tapi siapa perduli, yang penting masih ada yang bisa bahasa tagalog sudah cukup.
Apakah ada lagi alasannya?
Ada, aku ingin bertemu dengan Dennis trillo, Aljur, Bryan dan aktor serta aktris multifungsi, multimedia, multitasking, multiprofesi dan multi-multi lainnya.
Apa sudah cukup?
Luzon, Visayas, Mindanau, itu!
Lalu?
Lea salonga dengan karakter rossa.
Terus?
Menjadi penyanyi di negeri pilipino.
Udah?
Udah dulu, nanti kita sambung lagi.
Setelah Malaysia, adalagi tujuan perjalanan impianku untuk dikunjungi, yaitu Nepal dan Amerika. Meskipun ini adalah dua negara, tapi ini adalah impianku yang tidak bisa ku pisahkan. Nepal adalah negara dengan bendera terunik, dan Amerika adalah negara adikuasa.
Alasan yang mendasari pemilihan kedua negara tersebut adalah satu orang, bernama Bhawesh Misra. Sulit mengeja namanya, tapi dia adalah sahabat mayaku di luar negeri. Dia warga nepal, ahli fisika (katanya), dan sekarang lolos di Amerika untuk berkuliah. itu sangat keren untukku.
Sekilas, aku bertemu dengannya melalui facebook dikenalkan sama Santo, temanku. Selain dengan Lutfi aku juga mengobrol dengannya tentang segala hal. Lucunya, kami saling jujur menggunakan google translet untuk berbicara. Dulu dia belum terlalu mahir berbahasa inggris, apa lagi aku. Tapi seiring waktu bergulir, bahasa inggrisnya sudah lancar, sedang aku masih sekedar tekstual untuk ujian saja. Terkadang, dia berkomen ria denganku menggunakan bahasa indonesia transletan, jadi sedikit mandul kalimatnya. Keingin tahuannya sudah sangat besar sekali.
Aku mulai mengenalnya sejak kelas 8 SMA, dan berlangsung sampai sekarang, Agustus 2014. banyak hal yang kuingat darinya, dan informasi darinya. Dan hal yang tidak bisa dilupakan adalah saat saya menanyakan tentang Indonesia, dia tidak mengerti. Tapi saat ditanya Bali, dia mengerti.
Adakah alasan lain mengunjungi Nepal dan Amerika?
Kurasa tidak, Aku hanya ingin bertemu dengannya saja, agar tahu kehidupannya.
Hari begitu berangin, hari rabu yang sangat cerah namun berangin kencang. Sehingga di depan rumahku aku menulis semua yang kosong dengan penuh kesenangan, karena ini adalah suasana yang aku inginkan.
Aku adalah seorang anak adam yang punya banyak impian, sama seperti orang lainnya. Aku penuh dengan kegiatan yang sama, tapi memimpikan hal yang sangat besar. setiap kali aku bermimpi, aku menuliskannya sebagai daftar impianku saat ini.
Impian terbesarku adalah menemukan hal yang aku senangi dengan berkeliling dunia, dengan malaysia sebagai tujuan utamaku. kenapa? karena di malaysia ada tempat yang didalamnya seseorang yang menjadi kenang-kenangan dalam masa SMAku. Panggil saja Lutfi, dia adalah teman facebookku. Kami sering berbicara banyak, wakti itu hingga sekarang kita masih terhubung.
Dulu aku masih menggunakan ponsel Nokia 2600 classic, sebuah ponsel yang menghubungkan aku dengannya. Permulaannya, aku hanya mencari temanku yang namanya sama dengannya, dan tidak sengaja di yang ku tambahkan. Setelah itu kami banyak berbincang, saling bertukar informasi dan pengalaman.
Pengalaman dari SMA sampai bangku kuliah. Terhitung sudah 3 tahun lebih aku menjadi teman mayanya, dan terakhir, aku mendengar dia bekerja di mc. Donald di sana.
Kenapa aku ingin menemuinya sebagai tujuan pertama?
Alasan yang membuat aku ingin bertemu dengannya adalah aku ingin melihat
wajah aslinya, bertemu langsung dengannya. Apakah dia tinggi, ramah dan
berpengetahuan. Apakah dia pekerja keras, sayang keluarga. dan yang
terpenting adalah aku ingin mengunjungi rumahnya, itu saja.
Apa ada hal lain yang ingin dikunjungi di Malaysia?
Ada, yaitu menara kembar petromak. menara itu adalah menara yang
tersohor. Aku berfikir, WOW bisa membangun menara tinggi yang kembar
seperti itu, dan di masa seperti itu pula.
Apakah ada hal yang lain?
Sementara itu saja. semua akan terpikirkan saat sudah sampai di Malaysia, saudara Indonesia yang gemar bertengkar.
Namaku
ferdy, seperti mentari aku ingin dilahirkan tapi seperti bulan aku
menjadikannya. Semua orang bisa menghela nafas dengan enaknya kecuali aku,
yaitu terpenjara dalam asaku sendiri. Asa itu hanya sebagian kecil saja, hanya
saja itulah yang terbesar untukku. Aku bukan penulis, tapi aku mencoba
menuliskan hidupku sekali lagi. Meskipun aku tidak ingin mereka tahu, tapi aku
juga tidak ingin mereka lupa.
Tulisan
ini sedikit tentang hidupku. Tulisan ini adalah cerita kecil dalam pesawat
kertas dalam hidupku. Cerita ini terkenang olehku. Ada yang bilang dunia ini
harus ada dalam genggamku, bukan dalam hatiku. Tapi bagaimana jika aku
menyangkal. Bagaimana jika hidup ini sudah ada dalam hatiku, bukan didalam
genggamanku. Karena aku tak kuasa menggenggamnya. Tidak ada yang bisa ku
genggam. Hanya bisa dihati saja.
Ketika
bayi banyak cerita dari orang tuaku, terutama ibuku. Cerita itu berawal dari
kandungan. Entah apa ini semua tentang ibuku dan aku. Dia bercerita tentang
kesakitan saat mengandungku. Apalagi karena terkena bola hingga terjatuh.
Inilah alasan terkuat untukku tidak menyukainya, tidak menyukai bola. Kecuali
jika alasan lain akan muncul untuk aku bisa menyukainya. Yaitu bagian cerita
lain dalam hidupku seterusnya. Ayahku kemudian yang mengajariku tentang takut.
Saat malam aku dibukakan pintu aku malah merassa takut. Semua bayangan
memandangiku. Yaitu bermata namun jauh menunggu kehadiranku lalu aku
menggerutu.
Bagian
kedua adalah saat adikku lahir, aku ingat aku mengintip sedikit saat
kelahirannya. Dia adalah bagian terindah yang muncul saat usiaku lima tahun.
Mengajariku kasih saying. Yaitu ketika ibuku bilang aku sangat menyayanginya
saat itu. Meski aku tidak pernah ingat waktu itu. Kecuali yang ku ingat sebalum
dia lahir. Yaitu setiap kali aku tergendong saat empat tahun. Saat-saat aku
takut untuk dipotret. Dan saat-saat aku bermimpi.
Ketika
itu keponakanku pulang dari sekolah membawa apolo, balon tiup mengagumkan saat
itu. Kami berempat. aku, dan ketiga keponakannku, anak dari dua pakdheku. Ditiupkan
balon untuknya, untuk kawanku. Untuk kami berdua yang belum bersekolah. Tentu
aku terdiam, aku tak pernah meminta. Aku hanya ingin memilikinya dengan
tanganku sendiri. Itu awal aku menginginkan sesuatu.
Aku
tahu aku bukanlah anak yang selalu diberikan sesuatu. Aku hanya meminta lalu
diam. Kecuali menginginkan hal yang bisa aku pendam sendiri. Dan biasa merusak
untuk keingintahuanku. Atau berebut sesuatu. Disitulah aku mulai cemburu untuk
optimis. Kecuali aku yang selalu datang pada setiap permainan rumah-rumahan.
Itulah awal dari persahabatan. Yaitu ketika kami mendapatkan minion hello kity
kami masing-masing. Yaitu beraket, bertelepon dan sikembar. Temanku selalu
mendapatkan yang bertelepon, itu adalah nomer satu. Sedangkan kami merebutkan
yang beraket meski nomor dua. Itulah awal kami berkompetisi. Cemburuku masih
ada. Aku selalu bertanya. Kenapa dia bisa membeli barang yang dia suka. Mereka
selalu mendapatkan apa yang mereka inginkan. Kecuali aku yang mendapatkan
barang dari sisa keponakanku yang lainnya. Mereka nomor satu, dan aku selalu
terakhir. Kemudian saat kami bertanding badminton sederhana. Pertama aku hanya
dibuatkan dengan kayu, dengan bola kok dari tempat yang tak berguna lagi. Hanya
itu, aku hanya dibuatkan. Kecuali mereka memakai raket yang benar-benar nyata.
Aku hanya meminjam, karena itu aku selalu menjadi yang terakhir. Atau tidak
bermain sama-sekali. Bahkan hadiah dari makanan yang dibelikanpun tetap diambil
hakku. Aku tetap menjadi yang terakhir. Kesenangan digantikan dengan pengorbananku.
Itulah aku mulai bersabar. Disitulah aku mulai memberi kebahagiaan kepada orang
lain. Meskipun dihati sedih dan hampa untuk diriku sendiri. Disitulah aku mulai
bersabar.
Cerita
ketiga hanya tentang perjuangan kecilku. Meskipun aku tidak punya raket sendiri,
tapi saat aku bertanding aku berusaha yang terbaik. Meski belum menjadi yang
terbaik. Saat bermain kasti aku berusaha memukul agar melambung tinggi. Dan itu
benar-benar sering terjadi. Meski dengan perjuangan yang panjang dari sebelum
aku tidak bisa memukul bola sama-sekali. Disitulah aku mulai berjuang sendiri.
Bahkan setelah aku masuk sekolah, dari situ aku berusaha menjadi orang yang
telah kuceritakan tadi. Disitulah aku mau belajar. Apapun itu.
Meskipun
awal masuk sekolah dasar aku takut dengan gurunya. Bahkan menangis sepanjang
jalan sebelum gurunya mulai mengajar. Tak ada satu detik malahan. Setelah itu
aku mencoba dengan caraku dan sahabatku. Orang yang ditiupkan balon pertama
kali, dialah salah satu sahabatku. Apapun yang kita kerjakan pasti berdua.
Itulah awal aku belajar kerjasama dan kekompakan. Nol ditambah nol samadengan
nol, satu ditambah satu sama dengn nol,tiga ditambah tiga sama dengan nol, dan
seterusnya. Kami selalu mengerjakan berdua. Salah benar kita tulis bersama.
Salah benar kita tanggung bersama. Disitulah ada arti kekompakan.
Keajaiban
itu sirna. Aku naik kelas dua, sedangkan sahabatku tinggal kelas di sebelumnya.
Aku mengerjakan semua sendiri. Itu mengajariku untuk mandiri tanpanya. Yaitu
ketika aku mendapat satu per satu sahabat
baik. Diajar oleh guru agama terbaik. Dan selalu menjadi yang terbaik. Meski
saat itu aku hanya mendapat peringkat Sembilan, lalu sepuluh lalu tidak ada
lagi, tidak pernah ada lagi.
Semua
orang mungkin tahu, aku yang disaku hanya tujuh ratus rupiah tak pernah
mengeluh. Kecuali untuk makan cukup. Atau dikumpulkan saja sudah lumayan.
Kecuali ada yang mengajariku bersyukur. Temanku hanya punya tigaratus perak
bahkan tidak ada sama sekali. Dia sekarang mandiri, jauh dari aku yang manja.
Disitu aku belajar bersyukur.
Kami
selalu menngadakan persahabatan saat itu, bukan hanya sekolah pagi, tapi juga
sekolah sore. Kami kelas satu kami jilid satu dan kami kelas tiga kami jilid
tiga dan seterusnya kecuali aku yang berhenti di jilid tiga karena terkena
masalah. Pada waktu itu kami mulai berusaha sendiri. Disitu gambarku adalah
termasuk yang bagus. Kemudian kami mulai menggambar lalu diphoto kopi dan
dijual. Kami sudah punya pekerjaan waktu itu. Meski hanya sekedar menjual
potokopian waktu sekolah dasar. Yaitu dengan usaha kami sendiri. Kecuali
orang-orang yang berhenti diberi pesangon limaratus perak. Tapi itulah usaha.
Keuntunganku hanya berhenti di tujuh ribu rupiah. Itu sudah lebih dari cukup.
Sudah lebih dari cukup untuk anak seusia kami yang hanya membawa tiga ratus
rupiah untuk sekolah. Meskipun uangnya entah kemana tidak bersemayam ditanganku
sampai saat ini. Tapi itu sudah mengajariku tentang kerja keras.
Suatu
saat aku membeli, aku sudah kelas empat. Disitu aku mendapat teman dan musuh.
Awal aku mendapat pelajaran penyesalan. Yaitu membeli tanpa membayar. Dan ku
letakkan uangku sebesar barang yang ku beli ditempat yang tidak akan mungkin
ditemukan. Aku ikhlas menghilangkannya. Meski mungkin aku sudah membayar.
Disitulah aku belajar keikhlasan juga.
Yaitu
cerita tentang kenangan pahit saat jilid tiga. Saat dikelas tiga tentang guru
tergalak. Namun tetap guru yang terbaik. Ini cerita sekolah sore. Saat ku tahu
mereka sudah berangkat, lalu aku berangkat berdua dengan ponakanku yang sudah
tua untuk sekolah sore. Saat itu tentu tidak kudapati mereka satupun. Aku pergi
berjajan. Hingga saat datang kami bermain bersama. Kami bersebelas atau
bertujuh. Itulah awal rencana mereka berhasil, aku diperdaya. Pada akhir
permainan mereka menghajarku, mengeroyokku. Tentu dengan anak sesusiaku yang
belum genap tujuh tahun aku menangis dengan sedunya. Mereka menendangku
bertujuh sampai bersebelas pasang kaki, sedang aku tersungkur. Disitu lah aku
belajar pahitnya dunia. Disitulah awal aku tidak punya teman sama sekali. Kecuali
aku tetap memutuskan berhenti sama sekali dari jilid tiga. Dua minggu aku tidak
masuk aku tetap ditanyai mengapa, aku tak menjawab. Empat bahkan setahun sampai
aku berhenti. Melihati mereka lulus satu-persatu dengan hasil nihil. Sedangkan
aku serius dengan al-qur’anku waktu itu sehingga tamat sebelum mereka, padahal
aku tahu ada yang terlewat dua sampai tiga lembar dari bacaan mereka. Disitu
lah aku mulai konsisten bahkan setelah para perempuan mengambil tempat kami
diawal, aku masih tetap bisa merebutnya kembali. Meski aku hanya sendiri
diawal, meski harus membaca sendiri. Aku tetap konsisten dengan mengajiku,
meski saat mengaji aku sempat menangis ditengahnya karena aku berfikir aku
belum bisa apa-apa. Ternyata aku salah, malah aku dipercaya untuk mengaji
sendiri, bahkan mengajari yang lainnya meskipun terkadang aku tidak mahu karena
bukan kemampuanku mengajar. Disitulah aku mengerti sedikit.
Cerita
kedua adalah pertama aku bermain petak umpet. Saat itu aku tak pernah mau ikut
kecuali sekali lalu kalah. Disitu aku menjadi penjaga hingga berminggu minggu
permainan. Dengan permainan yang tidak tahu batasnya yang mana. Disitulah aku
mulai mengenal lelah dan permainan bukanlah aku. Disitulah aku berhenti
bermain, kecuali saat ditegur ayahku. Aku benar-benar berhenti bermain. Bahkan
berminggu-minggu tidak pernah keluar bermain. Disitulah televise menjadit
temanku, dan kartun imajinasi adalah sahabatku.
Disekolah
itu aku belajar banyak, yaitu tentang gadis yang paling dibenci, aku selalu
bertanya. Apakah ada yang salah darinya. Padahal aku biasa. Bahkan dia selalu
menangis, diejek dan dijadikan senda gurau diantara mereka, dan aku tidak tahu
mengapa. Tantu saat itu aku juga merupakan salah satu orang yang dibenci,
diejek dan dimaki bersama tiga orang lainnya. sampai sekolah lanjutanku.
Disitulah aku juga mendapat dua pilihan, ada dua teman. Dia adalah yang paling
akrab. Saat itu kami duduk lalu aku ditanya dalam keadaannya sedikit marah pada
seseorang. Dia juga adalah yang termasuk dijauhi, tapi dialah sicerdas yang
selalu mendapat nilai rangking teratas. Dia menyuruhku bersama mereka,
orang-orang yang membencinya padahal dia hanya denganku. Tentu aku tidak mau
dia sendiri. Aku setia. Disaat itu malah dia melakukan sesuatu yang kubenci
setelahnya. Yaitu perbuatan yang tidak dilakukan oleh kita. Disitulah aku mulai
menjauhi semuanya dan membenci juga apa yang diperbuat dikelas itu. Dikelas
enam. Sehingga kami lulus.
Cinta
pertama akhirnya tumbuh. Namun sahabat terbaikku dikelas itu yang duduk
bersamaku dikelas tujuh c sudah memilikinya terlebih dahulu. Tentu aku hanya
bisa bahagia karenanya. Kecuali hal paling menyenangkan terjadi. Yaitu aku
disuruh membuatkan puisi untuknya. Untuk gadis itu setiap hari. Yaitu dengan
bentuk-bentuk sesukaku, dan kata-kata sesukaku. Tantu aku tulus, karena aku
juga mencintainya. Tapi tabir itu terbuka. Semua orang tahu, dan disitulah aku
berhenti membuat puisi untuknya. Kecuali mereka tidak tahu apa yang kurasakan
sebelumnya. Yaitu ketika isi hatiku mengikhlaskan. Sehingga cinta segitiga
akhirnya terpisah saat aku masuk kekelas favorit. Dan peringkat kelasku hilang
seketika setelah itu sampai kelulusan. Kecuali sahabat-sahabatku yang
menemaniku sampai hari ini.
Selain
cinta kita ada persahabatan, kami adalah tim bertopi. Kami memakai topi sekolah
dari hari senin ke seninnya lagi. Dari senin ke seninnya lagi hingga lulus,
bahkan dari rumah. Yaitu aku masih dibenci, dengan masa laluku. Dan disitu
perbuatan terpujipun aku lakukan saat menjelang kelulusan. Akhirnya aku tak
punya cinta lagi. Yaitu diantaranya kengamukanku muncul, sampai aku benar-benar
marah. Kecuali kebiasaan itu. Aku tidak ingin mengingatnya lagi kecuali sahabat
sms yang menemaniku hingga kelas satu sma.
Kelas
sma aku tetap menjadi salah satu dikelas favorit, kawan baru mulai ada dan
kawan lama masih banyak adanya. Disitu aku termotivasi. Disitu aku mulai
memiliki tulisan yang indah dan enak dibaca. Meski kembar dengan sebangkuku.
Dan ada yang menyamainya tiga tahun kemudian, meski untuk kejelekan. Prestasiku
selama enam semester meningkat. Yaitu lima kali rangking 3 dikelas favorit, dan
satu kali rangking 5 dikelas dua semester satu, dan rangking 4 paralel saat
kelulusan dikelas ipa.
Disitu
aku dikenalkan untuk menjadi relawan penolong sekolah. Bahkan mengajari generasi
kami. Mengajari di ma dan smk, tentulah menyenangkan. Disitu aku yang dibenci
sudah berubah. Bahkan menjadi salah seorang yang ditunjuk untuk mengikuti
sesuatu. Yaitu kami siswa berempat yang selalu bersama, tiga sisiwi sahabatku
di ma yang baru kukenal dan 3 siswi smk angkatan atas kami. Kami selalu
ditunjuk untuk itu. Kami dites untuk mengikuti olimpiade, menjadi tentor kimia,
membangun perpustakaan untuk pertama kalinya, menjadi pengurus bulletin yang
satu-satunya ada di 3 sekolah meskipun setelah kami tidak pernah ada lagi.
Disitu tidak ada ketua atau tataran organisasi. Semua adalah satu dengan
pembimbing kami yang paling kami sayangi sampai pembimbing kami di MA dan
pembimbing di SMK menikah. Dua orang yang serasi kecerdasannya.
Ditempat
itu aku banyak teman, bahkan satu kelas adalah sahabat kami, sampai kedatangan
satu orang yang menjadi pelengkap kami. Disitu aku pertama kali menyanyi karena
hukuman lalu dipuji, menyanyi lalu dipuji lagi. Yaitu gadis tercerdas di MTs.
Pernah memujiku atas suaraku yang katanya mirip afgan. Lalu diulang lagi aku
dipuji suaraku, saat itu sahabatku perempuan memuji suaraku mirip petra. Aku
menjadi ketua dan sebagainya. Bahkan aku adalah salah satu yang paling dikenal
disana dari MA sampai SMK, lain hal dengan sahabatku yang laki-laki yang
terkenal dengan kepaijoaan di 3 sekolah.
Disitu
aku mendapat cinta ketiga, setelah pertama kehilangan cinta dan kedua karena
ditolak. Tapi tetap kandas saat kelulusannya.
Dia begitu anggun, dan bijak kecuali satu kesalahan dariku. Dia marah
kepadaku dengan tidak termaafkan. Temanku kukirim kepadanya, lalu dia membalas
dengan temanku. Dia memaafkanku dan aku harus berjanji untuk tidak
melakukannya. Aku malu. Dan aku mulai hilang dari kehidupannya. Karena
seseorang lagi.
Disitulah
aku pertama kali mendapat kebahagiaan, apalagi ada yang bilang aku adalah siswa
terkenal disana. Bahkan dia bilang mereka adalah semua siswa smk yang mayoritas
perempuan berseragam ungu.
Dilain
halnya aku pernah mendapatkan seseorang didepan telingaku memutuskan pacarnya.
Aku merasa bersalah karena mungkin gara-gara aku. Gara-gara daku. Yaitu setiap
sms yang kujawab dengan koma atau titik atau tidak ada isinya sama sekali.
Yaitu orang yang pertama kali mencium punggung tanganku. Seseorang itu. Yang
kubuatkan namanya yang berarti arti, dan panggilanku sendiri. Diantara kita
berdua. Lalu aku lulus, tidak ada kabar lagi kecuali sesekali bertukar pesan
maya.
Ada
satu sahabat yang sangat akrab, yang pernah memuji suaraku. Bahkan aku punya
satu lagu yang selalu dia minta untuk aku nyanyikan, meski liriknya agak
nyeleneh. Tapi itu adalah lagu kesukaan kami, judulnya Hijau. Yaitu disuatu
waktu dikesurupan masal hingga berminggu-minggu kami sampai diliburkan. Waktu
itu adalah awalnya. Dia berubah, aku berubah, dan sahabatku berubah setelah
hamper komanya. Kami bertiga berubah. Yaitu dia yang mulai menyendiri dan
termenung. Menjadi sangat dingin dan aku semakin tidak menyukainya. Kita berdua
bahkan tidak pernah saling bicara dan bertemu empat mata sampai lulus. Dia
perempuan dan temannya lagi perempuan dari kami bertiga. Dia adalah siswa
cerdas setelah aku, aku rangking 3 dia rangking 5, saat aku rangking 5 dia
rangking 3. Dia bukan yang kusebutkan tadi, dia adalah yang hampir koma. Dia
sahabat terbaikku hingga sekarang. Dia juga berubah, lebih dewasa. Saat
kesurupan dia adalah kuncinya, mengetahui siapa yang akan kesurupan dan
mengerti tentang semuanya, bahkan orang bernyanyipun dia mendengarnya.
Bersenandung. Dia adalah pembuat masalah. Gadis pembuat masalah. Dan mereka dua
sahabatku yang sudah berubah tahu itu. Akupun berubah, aku juga mendengar apa
yang mereka berdua dengar. Aku juga tidak tahu mengapa kecuali ada yang selalu
muncul dalam tidurku waktu itu. Selalu, ayah bilang dia pacarku. Bahkan sempat
menyembunyikannku waktu tidur, ayahku bilang itu. Mungkin jika tidak
dibangunkan, aku tidak tahu apakah sekarang aku masih hidup. Dan selalu
berlangsung dikamar tidurku, sampai aku tahu bagaimana mengatasinya. Walau
dimimpi, dan itu terasa nyata. Kedua sahabatku juga mengalaminya, meski dilain
cerita dan di lain narasi. Bahkan ibu bilang, saat tidur aku dan adikku saling
berbicara. Padahal kami dilain kamar dan saling terpejam mata kami. Dan
mimpi-mimpi selalu jadi kenyataan. Mungkin hingga sekarang. Ada pasangan dikami
bertiga. Aku tidak tahu tentang temanku yang pertama, gadis yang hampir koma
punya laki-laki katanya bisa menjadi perempuan, dia tahu saat dibilang oleh
seseorang yang sedang keserupan. Dia mengajaknya bicara. Dan aku punya
perempuan, kutahu dari ayahku, kecuali kepastiannya adalah setahun kemarin.
Entah apa sekarang masih ada. Kecuali semester tiga lalu saat maret. Pertama
aku mulai mendengar nada kematian, entah berawal dari mana aku tidak mengerti.
Kecuali aku hanya menduga ini tinnitus kepada temanku. Tapi temanku bilang itu
suara daun jatuh dari surga. Yang aku tahu, apakah benar. Kecuali dari lauh
mahfudz aku mendapatkannya. Kemudian salah satu orang mati, orang disekitarku
atau yang beritanya akan sampai kepadaku. Yaitu sahabatku dan ayah sahabatku.
Aku selalu terdiam saat melihat orang lain kesurupan saat itu. Aku kosong namun
tenang. Seperti mati tapi biasa saja. Belum ada ketakutan waktu itu.
Melihat
banyak teman aku punya sahabat karib. Kuperjuangkan dia, hanya untuk sekedar
mengenalnya atau dekat dengannya. Yaitu dua orang yang bergantian kutunggu
kedatangannya. Yaitu mereka yang mengajariku untuk datang pagi-pagi. Yang lebih
tua mengajariku tentang cara berdo’a dan berperilaku dan yang satunya adalah
orang yang diputuskan cintanya didepan telingaku. Dan dia mengjariku
menggendong TAS di bahu kanan saja. Mereka berdua adalah orang dibuku harianku.
Dibuku itu aku tulis perjalanku kenal dan belajar dengan mereka. Yang satu
lebih tua dariku dan sat lebih muda dariku. Dia adalah h4765rd dan password emailku
dengan tambahan 14 sebagai tanggal dia lahir.
Kemudian
setelah kuliah aku haus dengan semua pengajaran. Aku diasrama, aku kenal satu
orang saat waktu-waktu perpisahan. Dia sepertiku, seperti sepi, dan kosong. Dia
mengajariku dewasa. Dan dia mengajariku semua hal. Dia adalah kakak dalam
mayaku. Kecuali aku pernah membuatnya kecewa. Sedikit tapi tidak mengapa.
Apapun itu aku pasti berusaha untuk ada. Dialah orang yang pertama yang mau mengirim
sms meski hanya untuk menyapa atau menanyakan kabar saja. Dialah vroh, dia
panggil aku ng dengan kim. Lalu aku tambahkan m dinamanya. Dialah gunung yang
menyangga langit yang sangat jelas saat fajar. Dia gunung dan aku cahaya. Dia teramat
besar, dan aku tak Nampak sama sekali.
Begitu banyak
cerita kuuraikan. Kemudian kami mulai terpisah satu sama lain. Aku mulai
ketakutan dan semakin takut. Bahkan keputusanku remang dihadapanku. Semuanya terpisah
lagi.
Aku pernah
menuliskan sebelumnya. Dunia ini ada dihatiku, jika salah tapi itu sudah
terjadi. Aku benar-benar rindu. Kemudian dengan tulisan ini aku selalu berharap
agar engkau semuanya tetap ada. Aku tidak mau engkau meninggalkanku seperti
sahabat kuliahku yang akrab di saat-saat terakhirnya. Aku hanya ingin,
janganlah pergi sebelum aku. Berjanjilah. Sehingga aku yang akan pergi terlebih
dahulu. Kalian sangat berarti, yaitu yang menemaniku saat mencari ikan dan
tahlilan lalu berubah pergi, yang hanya bicara sepatah kata lalu aku pergi,
yang membuatku bersaing banyaknya pertemanan saat di facebook sampai ku pesani
ibunya di facebook, dan sang gunung yang sangat berarti. Kalian adalah pintu. Aku
hanya ingin melihat kalian menangis saat aku tiada nantinya, agar aku bisa
selalu memandangi kalian. Kecuali jika engkau marah aku malah akan senang. Salah
satu kutipan dari film milli dan Nathan adalah, Nathan lebih suka melihat milli
marah daripada dia bersedih. Akulah Nathan.
Inilah kutipan lagu yang kita berdua favoritkan yang
berjudul hijau, lagu dari hady mirza dan zainal abidin, lagu dari negeri
melayu.
Begini…
“Bumi yang tiada rimba
Seumpama hamba
Dia dicemar manusia
Yang jahil ketawa
Bumi yang tiada udara
Bagai tiada nyawa
Pasti hilang suatu hari
Tanpa disedari
Bumi tanpa lautan
Akan kehausan
Pasti lambat laun hilang
Duniaku yang malang
Dewasa ini kita saling merayakan
Kejayaan yang akhirnya membinasakan
Apalah gunanya kematangan fikiran
Bila di jiwa kita masih lagi muda
Dan mentah
Ku lihat hijau
Bumiku yang kian pudar
Siapa yang melihat
Di kala kita tersedar
Mungkinkah terlewat
Korupsi,opresi,obsesi diri
Polusi,depressi,di bumi,kini
Oh..anok-anok
tokleh meghaso mandi laok
Besaing,maing ghama-ghama
Ale lo ni tuo umurnyo bejuto
Kito usoho
Jauhke dari malapetako
Ozon lo ni koho nipih nak nak aghi
Keno make asak
Hok biso wei,pasa maknusio
Seghemo bendo-bendo di dunio
Tokleh tehe
Sapa bilo-bilo”
Seumpama hamba
Dia dicemar manusia
Yang jahil ketawa
Bumi yang tiada udara
Bagai tiada nyawa
Pasti hilang suatu hari
Tanpa disedari
Bumi tanpa lautan
Akan kehausan
Pasti lambat laun hilang
Duniaku yang malang
Dewasa ini kita saling merayakan
Kejayaan yang akhirnya membinasakan
Apalah gunanya kematangan fikiran
Bila di jiwa kita masih lagi muda
Dan mentah
Ku lihat hijau
Bumiku yang kian pudar
Siapa yang melihat
Di kala kita tersedar
Mungkinkah terlewat
Korupsi,opresi,obsesi diri
Polusi,depressi,di bumi,kini
Oh..anok-anok
tokleh meghaso mandi laok
Besaing,maing ghama-ghama
Ale lo ni tuo umurnyo bejuto
Kito usoho
Jauhke dari malapetako
Ozon lo ni koho nipih nak nak aghi
Keno make asak
Hok biso wei,pasa maknusio
Seghemo bendo-bendo di dunio
Tokleh tehe
Sapa bilo-bilo”
Dan persembahan dari film favoritku “seandainya”
Dari the radio berjudul radio
“I Just
feel The radio can stop the rain, o …
Kulihat dirimu…..
Ku dengar di radio
Kau menyanyi nada terindah
Kudengar di radio
Kau menyanyi nada untukku
I Just feel The radio can stop the
rain, o …
Di dalam mataku, ku melihat rindu
I Just feel The radio can stop the
rain, o …
Kulihat dirimu, kulihat dirimu
Musik :
Ku dengar di radio
Kau menyanyi nada terindah
Kudengar di radio
Kau menyanyi nada untukku
I Just feel The radio can stop the
rain, o …
Di dalam mataku, ku melihat rindu
I Just feel The radio can stop the
rain, o …
Kulihat dirimu, kulihat dirimu”
Dan sebagai penutup lagu dari rendy dengan film yang sama berjudul
takkan terpisah
“saat nanti kita tak bisa
saling
menyentuh memandang wajahmu
kuatlah
sayang karena mereka
berusaha
menjauhkan kita
ku kan
s'lalu mencintaimu
tak kan
ku bohongi hati ini
hanya
kamu yang ku mau
cuma
kamu yang kurindukan
saat kau
tak disini”





















