Posted by : Anonimous
Sabtu, 31 Januari 2015
Sekitar tiga hari akhirnya saya dan rombongan berkunjung ke bali, bagi saya ini erupakan perjalanan memori untuk saya, apalagi, sekaligus merayakan hari ulang tahunku yang ke-20. salah satu tempat yang kami singgahi adalah daerah bangli - bali, khususnya di desa Pnglipuran yang berasal dari suku kata Pangeling Pure atau tempat untuk mengenang para leluhur.
Meskipun hujan turun lebat, kunjungan tetap berjalan. kami berkunjung untuk berwisata, tapi kenyataannya, kami malah mengunjunginya bak seminar saja. kepala adat menjelaskannya, dan kami menanyakannya (baca: saya tidak tanya). inilah desa yang unik, masih khas bali, meskipun sudah terkena sentuhan modern. daerah utama terdiri dari rumah-rumah dengan petakan lahan-lahan warga yang berarsitektur bali (baca: dalam istilah bali disebut "pekarangan") yang terdiri dari beberapa keluarga. Di tengah desa terdapat jalan utama yang menghubungkan sebuah pure ke daerah ladang (baca: sebut saja begitu).
Alam yang masih hijau, setiap warga didepan pintu rumahnya saling mengajak masuk untuk membeli kerajinan disana. sempat saya masuk sebentar, disana terdapat sebuah minuman hijau, terdiri dari air, daun pandan dan kelapa sehingga terlihaat berwarna hijau dan raanya seperti rujak namun tidak terasa panas dimulut(baca: setahuku saja).
Pure berdiri disetiap sudut di desa itu, ada pure utama namun ditutup, mungkin untuk melindungi pure tersebut. Desanya memang kecil, dan dikelilingi oleh pohon bambu di lingkaran desa luarnya, bahkan mobil atau kendaraan modern harus mengitari desa untuk masuk rumah, dilarang menggunakan jalur utama desa. hal ini ditujukan agar hanya pejalan kaki yang melintasi jalan tersebut, untuk melidungi desa dan polusi dan agar tampak asri. itu saja si yang saya tahu.







