Posted by : Anonimous Jumat, 23 Januari 2015



Entah apa yang membuatnya menjadi menarik, jum'at, 23 Januari 2015 dimulai pukul 8.00 WIB. duduk di bangku tugu sutera, memandangi pemandangan yang sangat meneduhkan mata, dengan aroma bunga kanthil, dikelilingi para tukang kebun yang teramat tampan dengan pekerjaan mereka, serta burung-burung yang bebas hinggap kesana kemari. kiranya tepat membayar Rp. 3.000,- di perpustakaan tadi. sepertinya itulah loket surganya, serta bayarannya.

saya adalah tokoh utama dalam cerita ini. berpikun-pikun mengelilingi hijaunya kampus. bersiap sedia singgah dari satu pojok ke pojok lainnya, seperti jarum. para tukang kebun, ketiganya masih memandangi kami.

saya yang semakin tua, semakin dipanggil bapak-bapak. dan meskipun ketiga teman saya lebih muda dari saya, tetap saja saya terlihat lebih tua dari mereka, meski belum sepenuhnya dewasa. setelah melapor diri kepada Tuhan, inilah sasaran kami, tempat peneduh hati setelah sang kepala prodi meninggalkan kami, padahal kami menunggunya lama. di bukit cinta.

entah kenapa dinamakan bukit cinta. dua sejoli pun rasanya sangat jauh, atau bahkan tidak pernah sekalipun terlihat berduaan disini, hanya kami berempat, dua pasang lakon. pemandangannya memang indah. jurang, tapi terlihat lapangan, hutan, kebun dan gedung-gedung yang menakjubkan, dan pesawat yang mendarat adalah burungnya yang tampak besar.

itulah frekuensi kehidupan pertama yang dialami oleh aktor utamanya. semua senang, semua seperti menang. sebongkah obat pelipur lara karena nilai-nilai kuliah kami. lihatlah raut muka mereka, sangat sumringah. disana angin bertiup sangat sejuk, entah kenapa mengalahkan memori hujan yang semilir. mungkin karena ini kenyataannya, suasana inilah yang mengalahkannya, suasana nyata, bukan memori.

saya adalah seorang photografer, dan mereka adalah modelku. kamera menjadi tangkapannya. meskipun beberapa kali saya menjadi modelnya, tapi saya tetap menjadi photografernya. memotreti tawaan-tawaan. dengan ini, jangan sampai dunia itu menghilang seperti yang lainnya. seperti masa kecil tanpa tangkapan layar. disana sudah tertulih oleh angin, dan bambu-bambu, dan tanah-tanah. sudah terlukiskan disana, dan kamilah penulisnya.










Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

Welcome to My Blog

Popular Post

Blogger templates

Pages

Diberdayakan oleh Blogger.

Blogger news

Blogger templates

- Copyright © Bingkai Venus -Robotic Notes- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -