Posted by : Anonimous Sabtu, 28 Desember 2013

tertegun manis si manja baru dilahirkan,
sekejap aku tidak tahu apa-apa,
kecuali sinar terang yang tak bisa terbilas,
hanya putih,
tak bisa kuingat siapa waktu itu.

sebelum aku dewasa aku juga pernah kecil,
berbuntut pada ekor-ekoran,
berlayang-layang,
menari di reruntuhan jerami yang lapuk,
tentu dengan komentaar pedas.

wajah itu selalu terbebani,
namun senyum tetap seperti merekah,
mentaripun mungkin gundah juga,
saat aku melirikpun semua tahu,
tegar, coklat namun percaya diri.

itulah Bapak,
dialah permaisuri ibu,
membanting lunaknya keringat,
demi kami dan seisi rumah yang sudah lapuk,
tak ada resah namun tetap mewah.

meski terkadang penuh asap yang tak sedap,
beracun hingga meracun,
semua tak apa, aku hanya bisa diam,
sebagai bocah, sebagai anak polos,
pun tak mau menutup hidung,
hanya bisa tertegun atau menghindar sejenak.

melati mungkin tak tertandingi,
hanya bisa menyamai,
menyamai dengan penuh kokoh akar kaki-kakinya tanpa sepatu,
menyamai kulit-kulit pohon bajunya bolong,
topi baja,
topi segala masalah adalah rambutnya.

jika aku membenci aku sudah mati,
jika aku memberi juga semua akan mati,
madu mungkin berubah,
tapi sarangnya tetap, tidak pernah berubah,
perumpamaan berandai seperti itu,
dia tetap bapakku.

tangan kaki ini memang sudah letih dengan permainan ilmuku,
singkat cerita pikiranpun ragu,
kadang pusing, kadang marah,
dan berapi-api mengomentari takdir seperti matahari.

dirinya lebih lelah dari diri ini,
punggungnya luka sobek sedikit tapi perih,
punggungnya bercak merah koin seratus perak,
dengan gambar wayang,
tak perlu emas.

Kini sudah jauh,
layang-layangpun sudah terbang sepuluh tahun lalu,
kelelahanpun iba dengan tibanya,
permainan petak umpet sekarangpun masih mencari,
malam ataupun siang,
demi saya.

begitulah takdirnya,
bersayang aku juga iba dan cinta,
meski terkadang tak tahu berkata apa,
tapi tetap cinta,

puisi ini kucipta untukmu bapak,
hasil jerih dan ingatan sesaat,
dan ikhlas.
maka dengarlah dengan baik.

aku menyayangimu,
seperti indahnya puisi cinta bertasbih,
mengisahkan kakak kepada adiknya,
aku iba dan berharap,
aku seperti itu.

aku mencintaimu,
seperti saat kubuat untukmu simpul-simpul keranjang,
dengan lingkaran dan saling memutar,
dan engkau menekuk dan meneruskannya,
menganyamnya.

aku merindukanmu,
seperti laranganmu saat permainan itu aku tahu,
berbohong untuk menganyamkan orang lain,
dan menjadi temanku.

seperti ombak kura-kura sekarang besar,
diteduhkan dengan buaya kemarin sore,
tetap akrab tak ada luka,
tetap manis tak ada duka.

bapak,
saya merindukanmu.

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

Welcome to My Blog

Popular Post

Blogger templates

Pages

Diberdayakan oleh Blogger.

Blogger news

Blogger templates

- Copyright © Bingkai Venus -Robotic Notes- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -