merayu penuh gemas,
burung ikan tetap berenang,
kucingku mengeong,
ayamnya saling berlarian.
tangis sekecil dalam karung selendang gendongannya,
menangis dipotret kamera,
sikecil yang tak mau dipotret,
yang menggendongpun tak pernah tertangkap,
oleh jepretan kilat foto walau hitam-putih.
badannya ayu tapi kekar,
mawarnyapun tak ada duri,
tapi enak dipegang.
harum, putih murni berbekas jahit diperut,
berbekas luka mandi bercuci,
tak ada penat, tak ada lelah.
rambutnya terurai megah dan mengembang,
bibirnya merekah,
senyumannya manis,
tuturnya melirihkan sunyi.
bernada sumbang tapi merdu,
menggetarkan hati diri yang nakal,
tak ada amarah kecuali lemah,
berair penuh murni tuturnya menyairkan hati.
ibu,
engkau mama ku,
ku panggil emak dan me'e,
kadang bunda kadang mamak.
sajak ini mungkin tidak jelas bu,
seperti rasa yang tak bisa menggambarkan dengan jelas kehidupanmu,
sayangmu dan hidupmu, untukku,
tak pernah bisa diucap,
puisi syairpun tak tertembus,
hanya nurani atau sekedar nada tanpa lirik,
hanya itu tergambar sedikit,
secuil dari banyak,
setitik dari banyak bekas.
hati ini hanya bisa tersipu dan mengalir,
membasahi keringat atas saat ingat,
bersenandung lirih tak ada yang mendengar,
tapi merdu.
kerja kerasmu hanya bisa kupandangi kaku,
tak bisa membalas, dengan apa,
dengan apa, dengan apa,
tulisan hanya sejengkal,
pantunpun secuil.
lembaran sampai akhir tak menggambarkan apapun tentangmu,
kecuali engkau sendiri yang bisa menggambarkannya,
tak ada kata tanpa potret,
tak ada sunyi saat sunyi tanpa gambarmu.
puisi ini tak beraturan,
aku tak bisa merangkainya,
awalnya seperti apa, akhirnya seperti apa.
aku tak tahu berkata apa lagi,
aku bingung,
Aku hanya cinta ibu.
