Posted by : Anonimous
Minggu, 22 Desember 2013
Pagi ini aku hanya terbangun dengan berharap kesendirian tidak akan terjadi padaku. Tentu saja aku ingin saat bangun pagi ini ada seseorang, yang menemaniku setelah aku membuka mata. tapi harapan tetaplah harapan. tidak akan mungkin berbuah jika bukan waktunya. tapi aku yakin pasti akan ada waktu yang tepat UNTUK HARI ITU.
Seperti biasa, setiap pagi aku terbangun dengan dingin yang selalu menyertai tubuhku. apabila mendung, aku tidak akan melihatnya. Apabila sudah terangpun tidak. karena jendela yang sudah ditutupi oleh temanku dengan lembaran lembaran kertas coklat, yang hanya bisa aku melihat keadaan diluar dengan membuka pintu. tentu, aku tidak mencopotnya karena itu adalah kebahagiaan temanku. bukan kebahagiaanku. begitulah setiap pagi yang aku sendiri tidak melihat pagi itu sendiri, begitu pun juga pagi ini.
lengkaplah sudah semua sedih, saat sendiri. ditemani dengan suara kencang ibu kos dan anaknya menjerit-jerit saat berbicara. ditambah lagi dengan nenek yang selalu baik kepadaku dan piring bekas kemarin makan yang belum sempat aku kembalikan. semuanya melengkapi keadaan nada dipagi ini.
tibalah saat dimana sms dari ponsel mawar hitamku berbunyi saling beriringan. tentu dengan keadaan setelah aku membersihkan diriku dengan air yang tidak begitu dingin pagi ini. hari ini aku dikabari akan bertemu dengan dosen karena kegagalan kelompok kami jum'at kemarin. tentu bukan salah siapa-siapa penyebabnya, tapi kami ikut untuk bertanggung jawab.
bukan hanya sekali sms itu berbunyi, bahkan berkali-kali. menambah gundahnya hati kala pagi seiringan bersama ketidak jelasan nasibku hari ini. dia bertanya dan bertanya lagi, tapi tetap aku jawab dengan sama dari pertamanya, yaitu tetap ya atau oke. begitupun juga yang mungkin dia gundah pagi ini juga. mungkin aku bisa memakluminya.
seperti biasa aku berjalan menggembok pintu yang tidak seberapa luasnya kamar itu, setelah kubersihkan sisa-sisa plafond yang menjatuhiku tadi malam, yang berhasil meremukkan bahuku juga. tapi aku hanya tertawa mengingatnya.
seperti mengingat masa SMA saja. dimana hari ini aku mengenakan batik biru dengan berbusana celana abu-abu, bernostalgia dengan irama pagi, yang tentu akan membuat sunyi pagi ini, karena semilirnya yang dingin. membuat semua beranjak masuk kerumah, tapi aku tidak, aku tetap melangkah tanpa kendaraan terselimut di kaki ataupun sandaranku.
bukan berawal masalah mulanya, namun, tiba-tiba permintaan kembali asuk ke hp ku dimana aku disuruh membangunkan orang yang tak dikenal kamarnya maupun rumahnya, aku terperanga saja. namun napak hitam ide dari ponsel dengan pulsa yang tak seberapa. satu, dua, dan tiga aku memanggilnya lewat telephon, lalu gagal. empat, lima dan enam aku ulangi dan diangkat juga. tentu hanya berkata ayo berangkat saja, setidaknya dia sudah bangun dan perjalananku dimulai kembali dengan sisa pulsa lima ratus perak.
dijalan yang libur ini tetap ada bus yang silih berganti lewat. tapi betapa hati yang sedang begini. kutolaki semua hingga berjalan dengan mengambil langkah yang paling jauh untuk menenangkan diri. mengambil jalan dengan banyak pohon, bukan banyak kendaraan. seirama seperti ingin kembali kemasa lalu saja yang damai tanpa masalah, padahal aku sendiri tidak tahu masalahku sebenarnya apa.
hari ini tidak semulus perkiraan, tentu sangat kecewa. bagaimana tidak, seseorang yang sedari tadi memberi pesan menambah gundah, pembatalan acara hari ini tentu menambah gundah, dihari begini dengan arah yang galau pagi ini. aku berfikir, selanjutnya aku yang menjadi kotak pos pengirim sms sahabatku dengan sahabatku yang satunya. meski aku berkata aku bukan itu, aku tetap menahan. karena jelas pertama aku adalah tukang pos bisa mengurangi galauku pagi ini.
rencana hanya duduk melamun di gubuk penantian bus, tapi datang seseorang dosen yang kukenal mengajak bicara. pertama aku pun tak tahu tujuanku kemana saat ditanya, aku hanya menjawab FIS. dan kutanya balik dia menjawab FIS. tentu dia menggunakan bahasa yang semangat dan tidak menggalau. dan akhirnya tetap begitu, sampai diakhiri ngobrol memberi semangat awal sambil disalami dosen yang tak kukenal lagi, lalu kami naik bersama. turun bersama diFIS di pagi yang sepertinya akan galau ini.
Di FIS yang tenteram, galau menjadi sedih, dan sedih mengembalikan memori yang hilang. ingin mencoba mengambil gambar sebagai saksi galauku pagi ini. tapi aku hanya berhasil mengambil satu, karena malu. dengan semua berbalutkan putih-hitam sedang aku terasing, dengan busana biru-abu-abu.
disinilah mungkin kusimpan memori yang tergalaukan pagi ini. kutitipkan sedikit kenangan pahit, getir, senda, gurau yang mengenakkan. dimeja bundar berbentuk kayu dari beton, diiringi oleh tiga kursi lagi berbentuk batang pohon dari beton., aku tetap titipkan. biar semilir angin saja yang akan menjadi penyimpanannya. yang bisa menghantarkan lewat jaringan semilir dimanapun aku berada. agar tetap bisa merasakannya. agar tetap ingat. tanpa aku harus kesini waktu tua nanti.
dan tetap bisa menyebut rencana tuhan adalah rencana. meskipun di awal pagi hari senin, 23 desember 2013 ini aku pernah menggalau.


super sekali, jangan lupa kunjungi jejaksiboleng.blogspot.com
BalasHapus